Macam – Macam – Macam Macam Materi dalam Pendekatan Andragogi 1. Pendekatan Pemusatan Masalah Suatu kurikulum yang terpusat pada masalah, mengarahkan pada pengalaman belajar pada kehidupan para peserta didik sehari-hari, dan akan mempunyai manfaat secara langsung. Tetapi motivasi belajar akantetap lemah, jika peserta didik tidak didorong untuk percaya pada kemampuannnya sendiri dan dilibatkan secara langsung terhaap masalahnya. “ Dalam pendekatan pemusatan masalah, diskusi kelompok dan bepikir sangat dipentingkan pada diskusi kelompok, akan terjadi keikut sertaan (keterlibatan) peserta didik, sehingga terjadi hubungan saling percaya antara peserta didik dengan fasilitator, begitu juga sesama peserta didik.” “ Diskusi, melakukan seering ide sesuai dengan pengalaman para peserta didik dan dikaitkan dengan masalah yang di diskusikan. Dalam pendekatan Pemusatan masalah menggunakan metode Case studydan Incident study.” Case study. Kalau mau diindonesiakan, mungkin dapat disebut “ mempelajari kasus”. Dengan metode ini, pembimbing mengemukakan suatua kasus. Yakni suatu rangkaian kejadian dengan segala liku-likunya, segala datanya, yang merupakan suatu persoalan secara tertulis dan dibagikan kepada semua peserta untuk dipelajari, dan dicarikan pemecahannya. Hasil case studyini dibahas bersama ber sama dengan pembimbing. Karena pembimbing yang menyusun dan paling tahu segala seluk-beluk datanya yang penting-penting, maka ia dapat memepertanyakan apakah data tertentu sudah dipertimbangkan. Dapat dikemukakannya bahwa kalau tidak semua keterangan dipertimbangkan, maka m aka diagnosa mungkin tidak tepat, sedang kalau diagnosa tidak tepat, maka tindakan yang diambil bisa kurang efektif. Peserta dapat belajar banyak dari evaluasi pembimbing, baik berupa pujian maupun kecaman dan koreksi. Incident study. “ Mempelajari peristiwa”, mirip dengan case study,tetapi kasusnya belum tersusun rapi dan lengkap. Yang diberitahu oleh pembimbing hanya peristiwanya. Misalnya: “ Bendahara koperasi anu telah menghilang.” Tidak ada keterangan tersusun rapi tentang kapan kapan ia mgnhilng, mengapa ia menghilang, apakah ia membawa uang kas koperasi, apakah istrinya ikut serta menghilang, diaman ia bekerja dan sebagainya. Pembimbing memersiapkan beberapa orang pemeran yang dapat diwawancarai oleh peserta untuk memperoleh data diperlukan. Misalnya ada ketua kperasi, sekretaris, badan pemeriksa. Dengan metode ini, para peserta tidak hanya dilatih untuk membahas maslah, memecahkan persoalan melalui me lalui tukar pikiran, tetapi t etapi dilatih juga teknik wawancara yang sistematis terarah dan efektif. 2. Konsep Khit-pendi Thailand Konsep Khit-penini dilakukan dalam program-program pendidikan luar sekolah di Thailand. Khit-pen berarti mampu berfikir. Konsep Khit-pen berfikir secara kritis dan kecakapan memecahkan masalah. Hubungan dengan proses belajar, diterapkan oleh Dr. Kowit sebagai berikut “ Seseorang yang mengalami proses proses Khitpen akan mampu menelaah penyebab
masalahnya. Ia akan mampu mengumpulkan sejumlah informasi untuk mengambil tindakan yang harus diambil, dalam rangka pemecahan masalah. Konsep Khit-pen ini didasari oleh filsafat budha. Pertama, hidup adalah penderitaan, kedua ; penderitaan itu dapat diatasi, ketiga ; untuk mengatasi penderitaan, maka sumber penderitaan harus diidentifikasi, dan kemudian baru mencari cara pemecahan yang baik. Konsep Khit-pen di kembangkan menjadi 4 dasar strategi. Strategi pertama, sebelum merancang kurikulum, terlebih dahulu menentukan apa yang menjadi kebutuhan belajar dari peserta didik. Dalam mencari kabutuhan belajar ini, digunakan baseline surve. Hasil baseline surve ini kemudian dipecahkan 73 konsep. Stategi kedua, merencanakan satuan-satuan pelajaran dan prosesproses diskusi sedemikian rupa, sehingga setiap pertemuan (sesion)memberikan kesempatan untuk berlatih dalam pemecaham masalah. Melalui pertemuan-pertemuan itu, peserta didik mengembangkan kemampuan kritis, tentang keadaan-keadaan dalam kehidupannya sehari-hari, dimana mereka telah mempunyai pengalaman yang dapat mereka sumbangkan dalam diskusi tersebut. Dalam diskusi tersebut, peserta didik meguji pemikiranpemikirannya serta mempertebal kepercayaan dirinya maka dengan demikian, setiap satuan pelajar memberikan tekanan kepada warga belajar, untuk mengambil langkah pemecahannya. Dan pemecahan-pemecahan msalah itu, dicari dikembangkan sendiri oleh pesera didik, dan tidak dipaksakan kepada mereka oleh kurikulum. Berdiskusi adalah kegiatan manusia yang alamiah. Suatau kegiatan yang menarik, kreatif dan mengasikkan. Dalam suatu diskusi para pesertanya berfikir bersama dan mengungkapkan pikirannya, sehingga menimbulkan pengertian pada diri sendiri, pada pendangan kawan-kawan diskusi, dan juga pada masalah yang didiskusikan. Melalui diskusilah pribadi-pribadi tumbuh dan paguyuban terbentuk. “ Oleh karena itu diupelajari orang teknik berdiskusi yang efektif. Bentuk -bentuk diskusi yang berada ditemukan, dan diakui bahwa diskusi merupakan salah satu metode yang ampuh dan menarik. Diskusi dapat dibagi menjadi 3 istilah.” 1. Simposium. Dalam sebuah simposium beberapa orang ahli menyampaikan prasasaran, dilanjutkan dengan diskusi atau tukar pikiran di hadapan sejumlah hadirin. Hadirin dapat mengajukan pertanyaan. Pandangan dan pendirian yang berbeda terungkap, dan kesimpulankesimpulan dapat diambil. 2. Diskusi panel. Seorang pemimpim bertindak sebgai moderator yang mengatur jalannya diskusi antara beberaa orang panelis. Tanya-jawab dapat pula berlangsung dengan hadirin. 3. Buzz groups.Banyak masalah orang dewasa sesungguhnya dapat dipecahkan melalui tukar ikiran dengan mengikut sertakan semua pihak yang bersangkutan. Untuk berpartisipasi penuh semua hadirin, kelompok besar (paripurna) dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang teriri dari 5 sampai 8 orang. Mereka duduk dalam lingkaran (dengan atau tanpa meja) masing-masing, dan diskusi selama suatu waktu yang ditentukan. Katakanlah antara 30 menit sampai 45 menit bergantung dari bobot dan luas lingkup permasalahan. Diskusi kelompok
kecil itu dimpimpin oleh seorang ketua. Pendapat-pendapat dicatat oleh seorang sekretaris yang kemudian mencatat kesimpulan akhir. Sangat praktis apabila hasil itu dapat ditulis di sehelai kertas koran kosong dengan jelas. Sesuai diskusi kelompok kecil, hasilnya dilaporkan kepada pertemuan paripurna. Hasil tertulis di atas kertas diletakkan di dinding atau papan tulis supaya terbaca oleh semua hadirin, sehingga masih dapat dibaca ulang setelah selesai membacakan dan membubuhi ketaranagan tambahan, bila perlu. Pembimbing mempersilahkan hadirin mengajukan pertanyaan dan komentar. Setelah semua kelompok kecil melaporkan hasil diskusi kelompoknya, akan nampak adanya persamaan-persamaan dan perbedaan. Diskusi lebih lanjut dalam kelomok pari purna di bawah pimpinan pembimbing mungkin melahirkan kesimpuln kelompok paripurna. Semua kelompok kecil merasa ada sahamnya dalam kesimpulan akhir itu. Strategi ketiga : banyak menggunakan gambar atau perangsang diskusi (discussion stater), yang fungsinya sebagai alat untuk mempraktekkan teknik atau keterampilan dalam memecahkan masalah. Pada tahap ini, perancang bahan-bahan belajar yang merangsang untuk membangkitkan pemikiran yang rational dan analisis kritis. Strategi keempat; kurikulum disusun secara luwes untuk mengakomodasi terhadap keaneka ragaman kebutuhan peserta didik. Mereka tidak menggunakan buku standart. Tetapi peserta didik menggunakan lembar-lembar lepas, sehingga mereka menciptakan bukunya sendiri, dengan menambahkan satu atau dua halaman setiap kali, sesuai dengan waktu yang mereka butuhkan untuk menguasai satuan pelajaran tersebut. Hal ini memungkinkan kepada para guru untuk menerapkan dan menyesuaikan program belajarnya dengan keadaan lingkungan setempat dan menyesuaikan dengan minat peserta didik, serta dimasukkannya masalahmasalah baru yang diidentifikasi oleh peserta didik selama proses belajar berlangsung. Selain itu, suasana belajar diatur secara luwes. Peraturan-peraturan dalam kelas untuk orang dewasa, jauh lebih longgar dari pada peraturan-peraturan yang berlaku pada sekolah-sekolah formal biasa. Tempat-tempat belajar, sering di adakakan luar ruangan kelas, seperti di kuil atau dirumah, dan sebagainya. Cara duduk peserta dapat saling tetapi muka. Pedekatan Konsep Khit-penini menggunakan metode partisipatoris aktif ( berpartisipasi penuh = berhak berbicara dalam ruang belajar/pelatihan). Yang terjadi bukan murid mendengarkan guru, tapi peserta didik dan guru/fasilitator bebas berpendapat sesuai dengan kemampuan dan pengalamannya. Sesuai dengan Konsep Khit-pen i ni peserta didik wajib untuk berfikir secara kritis dan mempu memecahkan masalah. Pendekatan ini akan didukung dengan metode partisipatoris aktif, dimana para peserta didik akan aktif berbicara dan berpendapat secara kritis. 3. Pendektan Proyektif Foto atau gambar garis yang mengambarkan suatu masalah, kadang tidak memadai untuk menggali dimensi-dimensi permalsahan yang ada pada peseta didik. Oleh karenanya diperlukan adanya cara lain. Misalnya dengan melalui diskusi tentang perilaku beberapa tokoh dalam suatu cerita pendek atau sandiwara yang mempergunakan radio atau cerita bergambar. Cerita tersebut berfungsi sebagai alar proyektif bagi peserta didik yang gunanya
memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk memahami tindakan-tanduk dari pelakunya serta memahami isi cerita tersebut. Apabila ceritanya terbukanya, artinya masalah yang ada dalam cerita itu tidak dipecahkan. Pada masa ini pendekatan proyektif sudah berkembang menjadi penggunaan tehnologi modern. Karena alat terseut lebih praktis dan mudah seperti Overhead Projector.. Overhead Projectoradalah sebuah alat listrik yang dapat memproyeksikan gambar, tulisan, garis-garis dan sebagainya pada sebuah layar atau dinding. Apabila dipakai layar perak (silver screen), maka gambar tulisan nampak jelas walaupun ruangan terang pada siang hari. Masih ada beberapa alat yang dapat digunakan oleh penceramah untuk menghidupkan dan membuat menarik uraiannya. Seperti vidio, tipe, misalnya. Tetap masih sedikit sekali yang mampu menggunakannya, karena harga alat itu mahal, dan pada waktunya dapat dipelajari sendiri tanpa para pembimbing. 4. Metode Appersepsi-Interaktif. Metode appersepsi-Interkatif ini, mulai dengan mengindentifikasi tema-tema masalah kehidupan sehari-hari peserta didik. Bahan-bahan belajar yang didasarkan pada tema-tema itu, kemudian disiapkan dalam lembaran-embaan lepas berbentuk folder empat halaman, dengan gambar/foto yang merangsang di halaman mukanya. Dihalaman dalam berisi “cerita terbuka mengenai masalah tertentu.” Dalam mempergunakan setiap unit pelajaran peserta didik menghubungkan pengalaman dan perasaannya dengan gamabar/foto yang ada di folder (apresiasi). Kemudian warga belajar ini membahas dalam suatu diskusi mengenai isi folder tersebut (interaksi). Guru di sini berfungsi sebagai fasilitator, yaitu membantu peserta didik mencari kemungkinan-kemungkinan dalam pemecahan masalah yang dibicarakan dalam diskusi. Dalam situasi inilah peserta didik saling mendorong untuk mempertimbangkan berbagai pemecahan masalah yang mungkin di pecahkan. Sering pula hasil diskusi itu menjadi dasar timbulnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di luar ruang kelas. Selain itu pula metode ini mendorong peserta didik berfikir sendiri, serta menyelsaikan cerita itu dengan daya khayal mereka. Keluwesan dalam menggunakan folder dengan cerita yang terbuka ini, akan menimbulkan kesukaran bagi fasilitator dengan yang merasa berkpentingan untuk menjaga keseimbangan pelajaran. Tetapi bagi fasilitator yang ingin memberikan semua waktunya kepada peseta didik memahami dirinya dan lingkungannya, maka metode ini tidak memberikan hambatan tertentu.