RUANG TELUK JAMBE
LAPORAN PENDAHULUAN (LP) KASUS HIPERTROPI KELENJAR TIROID (STRUMA)
TATAT PERMANA 11/26/2009
HIPERTROF I
KELENJAR T HIROID (STRUMA)
Pengertian Pembesaran akibat pertambahan ukuran sel/ jaringan tanpa disertai peningkatan atau penurunan sekresi hormon-hormon kelenjar tiroid Disebut juga Goiter nontoksik, Simpel goiter atau Struma endemik. Dampaknya bersifat lokal, mempengaruhi organ disekitarnya seperti pengaruhnya pada trakea dan oesophagus. Benhard (1991) kelenjar thiroid dapat membesar sebagai akibat peningkatan aktifitas kelenjar thiroid sebagai upaya mengkompensasi kebutuhan tubuh yang meningkat. Misalnya pada masa per tumbuhan, kehamilan atau stress.
Penyebab Berdasarkan kejadian/ penyebarannya : 1. Struma sporadis (kasus dijumpai di berbagai tempat/ daerah) Faktor goitrogenik/ goitrogenik glokosida agent (zat/ bahan yang dapat menekan sekresi hormon thyroid seperti ubi kayu, jagung, lobak, kangkung, kubis bila dikonsumsi berlebihan). Anomali Penggunaan obat-obatan anti tiroid (tiourasil, tiourea, sulfonamid, metilkaptoimidazol) Peradangan Neoplasma 2. Struma Endemis (kasus dijumpai pada sekelompok orang di suatu daerah tertentu) Defisiensi jodium y
y y
y y
y
Patofisiologi Gangguan pada sekr esi hormon thiroid Hormon thiroid menurun Mekanisme umpan balik Aktifitas
kelenjar meningkat
Pembesaran kel thiroid (hipertrophy) (hipertrophy)
Dampak
Struma
Tergantung
pada pembesaran kelenjar thiroid mempengaruhi kedudukan organ-organ
disekitarnya 1. Pembesaran ke arah posterior medial : terdapat trakea, oesophagus. Menyebabk an : sulit bernafas bernafa s dan disfagia disfagia -------- --- Gangguan oksigenasi, oksigenasi, nutrisi, nutrisi, cairan cairan dan dan elektrolit serta suara menjadi menjadi serak serak dan parau. 2.
Pembesaran ke arah luar Akan membentuk leher yang besar (baik simetris atau tidak), jarang disertai kesulitan bernafas dan disfagia, tentu mengganggu estetika dan kecantikan (gangguan konsep diri dan rasa am an).
ASKEP KLIEN DENGAN HIPERTIROIDISME A.
PENGKAJ IAN 1. Pengumpulan Biodata Biodata : umur, jenis k elamin, tempat tinggal 2. Riwayat penyakit dalam keluarga 3. Kebiasaan hidup sehari-hari mencakup aktifitas dan mobilitas, pola makan, penggunaan obat-obat tertentu, istirahat dan tidur. 4. Keluhan seperti BB turun, meskipun nafsu makan meningkat, diare, tidak tahan terhadap panas, berkeringat banyak, palpitasi palpitasi dan nyeri dada. 5. Pemeriksaan Fisik : a. Amati penampilan umum klien, amati wajah klien khususnya kelainan pada mata * Edema P alpebra dikarenakan akumulasi cairan di peri orbita dan penumpukan lemak di retro orbita. * Penurunan visus karena penekanan saraf optikus dan tanda-tanda radang atau infeksi pada konjungtiva dan atau kornea * Fotofobia otofobia dan pengeluaran air m ata yang berlebihan b.
Amati
manifestasi klinis hipertiroidisme pada berbagai sistem tubuh lainnya. Dampak Hipertiroidisme Hipertiroidisme pada berbagai sistem tubuh 1) Sistem integumen : Diaphoresis, rambut halus dan jarang dan kulit lembab. 2) Sistem Pencernaan : BB menurun, nafsu makan meningkat dan diare,mual dan muntah 3) Sistem muskuloskeletal : kelemahan 4) Sistem Pernafasan : Dipsnea dan takipnea. 5) Sistem Kardiovaskular : palpitasi, nyeri dada, sistolik meningkat, tekanan nadi meningkat, takikardia dan disritmia.
6)
Metabolik : peningkatan laju metabolisme tubuh, intoleransi terhadap panas dan suhu subfebris. 7) Sistem neurologi : mata kabur, mata lelah, insomnia, infeksi atau ulkus kornea, sekresi air mata meningkat, konjungtiva merah, fotofobia, tremor, hiperrefleks tendon 8) Psikologi/ emosi : gelisah, iritabilitas, gugup/ nervous, emosi labil, perilaku maniadan perhatian meny empit c.
Palpasi kelenjar tiroid, kaji adanya pembesaran, bagaimana konsistensinya, konsistensinya, apakah dapat digerakkan serta apakah nod nodul ul soliter atau multipel. d. Auskultasi adanya bruit. 6.
7.
B.
Pengkajian psikososial mencakup kestabilan emosi, iritabilitas, perhatian yang menurun dan perilaku mania. Fluktuasi emosi menyebabkan klien menjadi bertambah lelah. Pemeriksaan Diagnostik mencakup pemeriksaan kadar T3 T4 serum; T3 ambilan resin T3 dan kadar TSH serum, sc anning anning tyroid, USG, dan pemeriksaan elektrokardiografi.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan y ang utama dijumpai pada klien dengan hipertiroidisme adalah : 1. Resiko tinggi gangguan pemenuhan O2 berhubungan berhubungan dengan obstruksi trakea 2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan adanya obstruksi usofagus 3. gangguan konsep diri berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar tiroid REN CANA KEPERAWATAN C. Diagnosa Keperawatan 1:
Resiko tinggi gangguan pemenuhan O2 berhubungan berhubungan dengan obstruksi trakea
Tujuan : Fungsi Kardiovaskular kembali normal Intervensi Keperawatan : y
y
y
Pantau frekuensi pernapasan,kedalaman pernapasan,kedalaman dan k erja pernapasan Rasional : distress pernapasan merupakan indikasi kompresi trakea karena obstruksi Bantu dalam perubahan posisi,latihan posisi,latihan nafas dan batuk epektif sesuai indikasi indikasi Rasional : mempertahankan jalan nafas dan ventilasi Atur posisi tidur semi fowler Rasional : untuk m empasilatsi ventilasi
Diagnosa Keperawatan 2:
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan efek hiperkatabolisme.
Tujuan : Setelah perawatan di rumah sakit, klien akan mempertahankan status nutrisi yang optimal. Intervensi Keperawatan :
1)
Auskultasi
bising usus Rasional : bising usus hiperaktif mencerminkan peningkatan motilitas lambung dan menurunkan fungsi resorpsi 2) Beri makanan tambahan diantara waktu m akan. Rasional : untuk memberikan ta mbahan nutrisi 3) Timbang berat badan secara teratur setiap 2 hari sekali Penurunan BB terus menerus merupakan indikasi kegagalan terhadap terafi antitiroid 4) Bila perlu konsultasikan klien deng an ahli gizi. Rasional : untuk menentukan diet pasien Diagnosa Keperawatan 3:
gangguan konsep diri berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar tiroid
Tujuan : Pasien tidak merasa r endah diri Intervensi Keperawatan : 1. Observasi tingkah laku yang menunjukan tingkah ansietas Rasional : ansietas ringan dapat ditunjukan ditunjukan dengan peka rangsang dan insomnia 2. Tinggal bersama pasien,mempertahankan sikap yang tenang Rasional : pasien biasa biasa lebih percaya dan ter buka 3. Jelaskan tentang penyakitnya dan rencana pengobatan Rasional : akan membuat pasien mennerti dan m enjadi tenang TINDAKAN BEDAH Tindakan
pembedahan yang lazim dilakukan adalah : 1. Tiroidektomi Subtotal yaitu mengangkat sebagian kelenjar tiroid. Diharapkan kelenjar yang masih tersisa masih dapat memenuhi kebutuhan tubuh sehingga tidak diperlukan terapi penggantian horm on. 2. Tiroidektomi total yaitu mengangkat seluruh kelenjar tiroid. tiroid. Klien yang menjalani tindakan ini harus mendapat terapi hormon pengganti yang besar dosisnya beragam pada setiap individu dan dapat dipengaruhi oleh usia, pekerjaan dan aktivitas.
Perawatan Preoperasi 1. Sebelum tindakan operasi, kadar hormon tiroid harus diupayakan dalam keadaan normal untuk mencegah tirotoksikosis pada saat operasi yang dapat mengancam hidup klien. 2. Pemberian obat antitiroid masih tetap dipertahankan disamping menurunkan kadar hormon darah juga dimaksudkan untuk mencegah perdarahan pada saat operasi karena obat ini mempunyai efek mengurangi vaskularisasi darah ke kelenjar tiroid. 3. Masalah-masalah jantung harus sudah harus tera tasi. 4. Kondisi nutrisi harus optimal. Diit TKTP sangat dia njurkan. 5. Latih klien cara batuk efektif nafas dalam. 6. A jarkan cara mengurangi mengu rangi pereg p eregangan angan pada p ada luka operasi o perasi akibat a kibat rangsang r angsang an batuk dengan menahan dibawah insisi dengan kedua tangan. 7. Beritahukan klien kemungkinan suara menjadi serak setelah operasi akibat pemasangan ETT saat operasi. Jelaskan bahwa itu adalah hal yang wajar dan dapat kembali seperti semula. Perawatan Postoperasi 1. Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai stabil dan kemudian lanjutkan setiap 30 menit selama 6 jam. 2. Gunakan bantal pasir atau bantal tambahan untuk men ahan posisi kepala tetap ekstensi sampai klien sadar penuh. penuh. 3. Berikan posisi semi fowler bila klien sadar. Apabila memindahkan hindari penekanan pada daer ah insisi. 4. Berikan obat analgesik sesuai program terapi. 5. Bantu klien batuk batuk dan nafas setiap 30 menit sampai 1 j am. Gunakan pengisap pengisap oral dan trakea sesuai kebutuhan. 6. 7. Monitor Monitor komplikasi antara lain : perdarahan, distress pernafasan, hipokalse mia ditandai dengan tetani, kerusakan saraf laringeal. Untuk mengantisipasi perdarahan tersebut inspeksilah sesering mungkin balutan luka dan cairan drainage khususnya 24 jam pertama postoperasi. Distress pernafasan dapat terjadi akibat edema laring dan tetani. Dengarkan bunyi pernafasan seperti stridor laringeal. Peralatan emergensi harus disiapkan disisi tempat tidur klien seperti trakheostomi set, intubasi set dll. Untuk dapat memberi tindakan segera bila klien mengalami ko mplikasi pascaoperasi. Adanya hipokalsemi dan tetani akibat terangkatnya kelenjar paratiroid diantisipasi dengan observasi ketat terhadap kesadaran, kontraksi otot, rasa kesemutan sekitar bibir dan ujung-ujung jari. Kerusakan saraf laringeal dideteksi dengan mengobserv asi setiap 2 jam kualitas suara klien. Suara serak dapat berlangsung berlan gsung sampai 1 minggu namun berangsur-angsur dapat pulih kembali.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Brunner Brunner & Suddarth,keperawatan medical bedah edisi 8 vol 3. EGC.Jakarta 2. Diagnose nanda ( Nic & Noc ).2007-2008.Asuhan ).2007-2008.Asuhan keperawatan. 3. Dongoes Dongoes E.M.1999.Rencana asuhan keperawatan.edisi 3.EGC.Jakarta