No.: PB03-3-03-2014
P
f e i Br
licy
Toleransi Kandungan Residu Formaldehid pada Ikan Segar PESAN UTAMA Ü
Pengeran zero tolerance terkait penggunaan formalin pada ikan pada umumnya dipahami sebagai 'kandungan formaldehid pada ikan dalam kadar berapapun dak diijinkan'. Pemahaman seper itu harus dikoreksi karena formaldehid dapat terbentuk secara alami pada bahan makanan, termasuk ikan segar.
Ü
Berdasar latar belakang informasi ilmiah tersebut di atas, deteksi penggunaan formalin pada ikan yang didasarkan pada pengukuran residu formaldehid sebagai indikator perlu dikoreksi dengan kadar formaldehid yang secara alami terbentuk pada ikan tersebut.
Ü
Data dan informasi kandungan residu formaldehid yang terbentuk secara alami pada ikan perlu untuk dilengkapi berdasarkan jenis ikan dan olahannya.
Ü
Implikasi kebijakan: Regulasi level toleransi residu formaldehid sebagai indikator penggunaan formalin pada ikan perlu disesuaikan dengan menjadikan kandungan formaldehid yang secara alami terdapat pada ikan sebagai batas toleransi.Sosialisasi kepada semua stakeholders tentang masalah ini harus dilakukan secara intensif. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu mengambil inisiaf dalam sosialisasi ini.
LATAR BELAKANG Penggunaan formalin pada produk makanan (termasuk ikan) sampai saat ini masih sering terjadi meskipun regulasi tentang penggunaan formalin sebagai bahan terlarang untuk makanan telah banyak diterbitkan (Anonim, 2014). Hasil monitoring terhadap penggunaan formalin pada produk perikanan yang dilakukan Balai Besar Penelian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBP4BKP) dari tahun 2004 hingga 2008 menunjukkan pemakain formalin pada produk perikanan terus terjadi. Ikan segar, jambal ikan, dan cumi kering merupakan produk yang sering ditemukan posif mengandung formalin (Anonim, 2008). Berkaitan dengan regulasi tersebut, kontroversi muncul sehubungan dengan penerapan “zero tolerance” terhadap kandungan formalin dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PerMenKes) Nomor 033/Menkes/Per/VII/2012 dalam produk pangan termasuk produk perikanan. Keluhan negara lain muncul dari kasus penolakan impor produk perikanan mereka yang dinyatakan mengandung formalin bahkan sampai terjadi pemusnahan barang karena penerapan kebijakan “zero tolerance” tersebut (Heruwa, 2014). Hal ini terkait fakta bahwa formalin (formaldehid) sebenarnya dapat terbentuk secara alami pada ikan karena pemecahan TMAO menjadi DMA dan formaldehid. Pertanyaannya, apakah formaldehid yang ditemukan pada ikan merupakan formaldehid yang terbentuk secara alami atau berasal dari formalin yang sengaja ditambahkan.
BBP4BKP
Toleransi kandungan formaldehid yang aman pada produk perikanan menjadi penng untuk ditetapkan mengingat, khususnya untuk produk perikanan, secara alamiah ikan akan membentuk formaldehid secara alami selama proses kemunduran mutu yang konsentrasinya tergantung jenis ikan dan cara perlakuannya.
BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENGOLAHAN PRODUK DAN BIOTEKNOLOGI KELAUTAN DAN PERIKANAN Jl. K.S. Tubun, Petamburan VI Jakarta Pusat 10260 T: +6221-53650157 F: +6221-53650158 Website : www.bbp4b.litbang.kkp.go.id Email :
[email protected]
PENYALAHGUNAAN FORMALIDEHID DALAM MAKANAN
besarnya tergantung pada jenis ikan dan suhu penyimpanan. Pada penyimpanan suhu kamar, suhu dingin, maupun suhu beku, formaldehid masih tetap terbentuk secara alami dengan level konsentrasi yang berbeda-beda tergantung jenis ikan dan suhu.
Formalin (formaldehyde atau methyl aldehyde, HCHO) adalah senyawa berbentuk gas dak berwarna, bau menyengat, yang sangat reakf. Formalin biasanya dipasarkan dalam bentuk larutan dengan kisaran konsentrasi 30-40 persen dan menggunakan metanol sebagai penstabil (Heruwa, 2014). Formaldehid merupakan senyawa dengan ngkat karsinogenitas nggi (golongan 1) pada manusia (Heruwa, 2014; Anonim. 2004) sehingga penggunaannya untuk makanan dak diijinkan. Namun, formaldehid dapat terbentuk secara endogen (muncul secara alami) sebagai hasil reaksi enzimas atau karena faktor mikrobiologis pada banyak makanan (WHO, 1989) seperbuah dan sayuran (3,3 – 60 ppm), daging (8-20 ppm), susu (1-3,3 ppm) dan juga ikan (1-98 ppm).
Dari kajian tersebut ditemukan pula bahwa ikan yang dibekukan cenderung memiliki kandungan formaldehid yang lebih nggi daripada yang disimpan pada suhu kamar atau yang dies. Formaldehid alami pada udang vaname segar yang dies (0-4°C) mencapai 1,04 ppm, sedangkan pada udang windu mencapai 1,53 ppm. Kandungan formaldehid alami pada kerapu macan yang masih segar yang disimpan pada suhu kamar adalah 0,62 ppm, dan meningkat menjadi 3,02 ppm pada saat ikan telah mengalami pembusukan (pada saat kandungan TVB di atas 30 mgN%). Sementara itu, kandungan formaldehid pada kakap merah yang disimpan pada suhu kamar sekitar 0,86 ppm, yang dies mencapai 1,39 ppm dan mencapai 1,49 ppm pada penyimpanan beku. Pada ikan cobia, juga terjadi kecenderungan serupa, yaitu meningkat dari 1,07 ppm pada penyimpanan suhu kamar menjadi 1,4 ppm keka dies dan meningkat menjadi 3,41 ppm pada cobia beku. Pada kondisi tersebut ikan masih dinyatakan segar.
Keberadaan f ormaldehid dalam makanan juga karena ditambahkan, termasuk seafood, sebagai pengawet (Chung & Chan, 2009; Heruwa et al., 2005 dan 2006; Kim et al., 2011; Restani et al., 1992) karena efekf dalam membunuh bakteri, kapang, bahkan virus meskipun kurang efekf terhadap spora bakteri (WHO, 2002). Formaldehid bereaksi dengan asam amino dalam protein menyebabkan denaturasi protein dan cross-linking yang dapat membuat produk lebih kompak, keras, berserat, kering, dak larut air (Nielsen & Jørgensen, 2004; WHO, 2002; Branen & Davidson, 1983) sehingga menyebabkan protein sulit dicerna tubuh. Formaldehid juga menghambat akvitas mikroorganisme dengan cara inakvasi protein melalui reaksi kondensasi asam amino bebas dalam protein menjadi hidrokoloid. Hasil monitoring penggunaan formalin pada produk perikanan yang dilakukan oleh BBP4BKP dari tahun 2004 hingga 2008 (Tabel 1) menunjukkan pemakain formalin pada produk hasil perikanan masih terus terjadi (Anonim, 2008), sampai Nopember 2011 (Yennie et al., 2012), bahkan Februari 2014, penggunaan formalin masih terjadi di banyak tempat di Indonesia (Anonim, 2014). Tabel 1. Hasil monitoring formalin pada ikan secara kualitatif tahun 2004 – 2008 Tahun
Persentase jumlah sampel posif mengandung formalin (%) Ikan Segar
Asal Sampel
Ikan Olahan
2004
79,00
95,00
Jakarta, Jabar, Jateng, Jam, Lampung, Bali, NTB
2005
20,00
17,00
Jakarta, Jabar, Jateng, Jam, Lampung
2006
2008
2011
7,04
12,80
17,8
14,15
Jakarta, Jabar, Jateng, Jam, Lampung, NTB, Banten, DIY, Sumut, Sumsel
30,80
Jabar, Jateng, Jam, Lampung, NTB, Banten, DIY, Sumsel
22,2
DKI Jakarta, Jawa Barat, Tangerang-Banten, dan Jawa Tengah
Sumber: Anonim (2008), Anonim (2014), Yennie et al., 2012)
LEVEL KANDUNGAN FORMALIDEHID ALAMI Formaldehid secara endogen dapat terbentuk pada banyak macam produk makanan yang kandungannya bervariasi tergantung produknya, misalnya pada buah dan sayuran mencapai 3,3-60 ppm, pada daging 8-20 ppm, pada susu 1-3,3 ppm (WHO, 1989). Kandungan formaldehid alami pada ikan pun bervariasi kisaran 1-98 ppm. Misalnya, kandungan formaldehid alami pada kerapu 0,6-3,0 ppm, pada cumi 20 ppm, ikan bombay duck (ikan nomei) 15,75 ppm, tetapi bisa lebih nggi pada jenis ikan lain (Riyanto et al., 2006; Rachmawa et al., 2007; WHO, 1989). Variasi kandungan formaldehid alami tersebut antara lain disebabkan karena adanya perbedaan karakterisk daging ikan seper kandungan lemak atau yang lainnya (Noordiana et al., 2011). Berdasarkan kajian BBP4BKP terhadap beberapa jenis ikan, terdapat buk bahwa secara alami formaldehid dapat terbentuk pada beberapa jenis ikan (Tabel 2). Dari hasil penelian tersebut ditemukan bahwa pembentukan formaldehid sejalan dengan proses pembusukan ikan dan
2
Tabel 2. Kandungan formaldehid pada beberapa jenis ikan kondisi masih segar di Indonesia No
Jenis Ikan
Kandungan Formaldehid (ppm) Suhu Kamar
Suhu Es
Suhu Beku
-
1.04
2.03
-
1.53
3.08
2.14
2.31
0.28
0.86
1.39
1.49
0.62
0.23
0.96
0.50
2,79
2.34
1
Udang vaname
2
Udang windu
3
Kerapu cantrang
4
Kakap merah
5
Kerapu macan
6
Kakap puh
7
Bandeng
0.34
0.55
2.53
8
Cobia
1.07
1.41
3.41
9
Kurisi
-
0.99
-
10
Ikan coklatan
-
0.70
-
Catatan: 1) ikan masih segar dengan kandungan TVB masih di bawah 30 mgN% 2) nilai di atas sudah mempertimbangkan nilai maksimal berdasarkan standar deviasinya
LEVEL BAHAYA FORMALDEHID Formaldehid (free formaldehyde) merupakan senyawa yang sangat reakf terhadap makromolekul biologis karena dapat berikatan silang secara intra- atau inter-molekuler dengan asam nukleat melalui absorpsi di gugus yang bersentuhan atau kontak langsung. Pemberian pakan dari tepung ikan yang ditambah formalin terhadap kus mengindikasikan terjadinya kerusakan sel lambung, ginjal dan ha hanya dalam waktu 2 minggu (Murni et al., 2009). Hasil tersebut di atas tampaknya lebih disebabkan oleh formaldehid bebas. Formaldehid yang terdapat pada ikan bereaksi dengan protein daging ikan dan menyebabkan tekstur daging ikan menjadi liat sehingga disarankan untuk ikan yang mengandung formaldehid pada dosis di atas 10
Beberapa negara telah menetapkan nilai batasan kandungan formaldehid yang diperbolehkan pada pangan. Di Italia (1985) ditetapkan batasan maksimal kandungan formaldehid sebesar 60 ppm untuk Gadidae dan 10 ppm untuk krustase ( Bianchi et al ., 2007 ) . Malaysia (1985) memberikan batasan yang umum untuk semua komoditas ikan segar atau olahan sebesar 5 ppm (Aminah et al., 2013). Cina melalui Departemen Pertanian memberikan batas toleransi kadar formaldehid dalam produk dari perairan sebesar 10 ppm. Sedangkan Sri Lanka melalui Kementerian Kesehatan dan Nutrisi (2010) mengatur kadar formaldehid dalam ikan yang diimpor, didistribusikan, disimpan dan dijual dak lebih dari 5 ppm. Sementara itu, European Commission Direcve 95/2/EC membolehkan formaldehid dalam keju provolone dengan maksimal 25 ppm (Anonim, 1995) dan melalui European Commission Direcve 2009/10/EC memperbolehkan formaldehid sebagai adif pembentuk gel hingga 50 ppm (Anonim, 2009a). Di Indonesia, melalui PerMenKes No. 033/MenKes/Per/VII/2012 (perubahan atas PerMenKes No. 1168/Menkes/PER/X/ 1999), mengatur bahwa formalin dak diperbolehkan berada dalam makanan atau zero tolerance. Arnya, dak ada toleransi terhadap penggunaan formalin pada bahan makanan yang diukur berdasarkan residu formaldehid. UndangUndang No. 7 Tahun 1996 mengenai pangan, pelaku penggunaan bahan berbahaya yang dilarang sebagai bahan tambahan pangan akan dihukum dengan hukuman penjara lima tahun atau denda 600 juta rupiah. Bahkan dalam UU No. 8 Tahun 1999 mengenai perlindungan konsumen, terkait dengan bahan berbahaya tersebut konsumen berhak mendapatkan dan bisa mengadakan keberatan atas produk yang dibelinya, dan kerugian yang diterima konsumen dapat digan dengan hukuman penjara selama 2 tahun penjara atau 5 milyar rupiah. ppm dak dianjurkan untuk dimakan (Yasuhara & Shibamoto, 1995). Selain itu, efek akut formaldehid dapat menyebabkan kerusakan DNA karena senyawa ini terikat cepat dengan protein yang menyebabkan ikatan silang DNA-protein dan memecah DNA menjadi single stranded-DNA (DNA menjadi rusak). Efek kronisnya (jangka panjang) akan menyebabkan penurunan selera makan dan minum, penurunan berat badan, penipisan dinding mukosa (lambung), peningkatan berat dan kerusakan pada ginjal (Johannsen et al.. 1986; Tobe et al., 1989), dan peningkatan risiko terjadinya tumor dan leukemia (Soffri et al., 1989). Konsumsi formaldehid yang masih belum menimbulkan efek akut yang dapat dikenali (NOAEL; no observable acute effect level) adalah 15 mg/kg berat badan/hari, sedangkan pada level 0,2 mg/kg berat badan per hari (maximum daily dose reference, RfD) telah menyebabkan pengaruh kronis (Anonim, 1999).
ATURAN TENTANG FORMALDEHID DI BEBERAPA NEGARA Kisaran kandungan formaldehid alami pada ikan mencapai 6–20 mg/kg dan dapat lebih nggi pada jenis ikan yang lainnya, misalnya kekerangan yang mencapai 1-100 mg/kg (Anonim, 2009a; WHO, 2001). Dari hasil kajian B B P 4 B K P diketahui bahwa kandungan formaldehid yang terbentuk secara alami pada ikan segar berkisar antara 0,23 pmm hingga 3,22 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan formaldehid pada ikan dak dapat dihindari dan perlu diperhitungkan dalam menentukan batasan toleransi kandungan senyawa tersebut.
Namun demikian, berdasarkan hasil kajian yang telah disajikan di depan, keberadaan formaldehid dalam ikan dapat terjadi secara alami sebagai hasil perombakan senyawa TMA-O yang terbentuk selama proses pembusukan ikan. Ini berar bahwa kemungkinan terdeteksinya residu formaldehid pada ikan sangat nggi meskipun dak dilakukan penambahan formalin. Dengan kata lain, zero tolerance terhadap penggunaan formalin dak berar zero tolerance terhadap residu formaldehid. Tingkat toleransi residu formardehid perlu mempermbangkan kandungan formaldehid yang dapat terbentuk secara alami. Karena itu, regulasi terhadap larangan penggunaan formalin harus dilengkapi dengan informasi tentang kandungan formaldehid alami tersebut.
TOLERANSI KANDUNGAN FORMALDEHID YANG AMAN Jika diasumsikan seseorang memiliki berat badan 50 kg, maka konsumsi ikan yang mengandung formaldehid 7,5 ppm (faktor kedakpasan 100 kali) sebanyak 1 kg ikan per hari masih belum menimbulkan efek akut. Efek kronis akan dapat terjadi jika mengkonsumsi 1 kg ikan per hari yang mengandung 10 ppm. Namun, berdasarkan nilai NOEL (no-observed-effect level) yang dikeluarkan IPCS (Internaonal Programme on Chemical Safety) yang besarnya 260 ppm (faktor kedakpasan 100 kali), maka batasan tersebut akan menjadi lebih kecil yaitu 2,6 ppm. Batasan maksimal toleransi formaldehid pada ikan yang telah ditetapkan di beberapa (Malaysia, Sri Lanka, Cina) dapat dijadikan referensi yang cukup imbang dengan tetap memperhakan ngkat resiko yang mungkin dapat dimbulkan. Perhitungan kasar level aman kandungan formaldehid pada ikan juga dapat menjadi permbangan bagus untuk menentukan level maksimal yang diperbolehkan. Dengan mengkaji nilai ambang yang diberikan oleh EPA (Environmental Protecon Agency) dan IPCS (Internaonal Programme on Chemical Safety) serta beberapa permbangan batasan kandungan formaldehid di beberapa Negara (Bianchi et al., 2007; Til et al., 1989; WHO, 2002; Yasuhara & Shibamoto, 1995). Dengan mengacu hasil kajian yang dilakukan BBP4BKP (Tabel 2) dan mempermbangkan informasi tersebut di atas maka dapat direkomendasikan kandungan formaldehid yang dapat ditoleransi pada ikan segar seper pada
3
Tabel 3. Batas toleransi yang direkomendasikan untuk residu formaldehid pada ikan segar Tabel 3. Sedangkan untuk jenis ikan lain yang dak dicatumkan di dalam Tabel 3, maka direkomendasikan residu formaldehid dak lebih dari 2,5 ppm.
No 1
Jika mengacu pada nilai RfD pada level 0,2 mg/kg berat badan maka dapat dihitung ngkat keamanan bagi seseorang untuk mengkonsumsi ikan sesuai dengan rekomendasi tersebut di atas (Tabel 3). Sebagai contoh adalah ikan cobia yang dalam rekomendasi memiliki nilai paling nggi, yaitu 3,41 ppm (Tabel 3). Dengan asumsi seseorang memilki berat badan 50 kg, maka orang tersebut untuk mencapai nilai RfD memungkinkan untuk mengkonsumsi ikan cobia sebanyak 2,9 kg per hari. Tampaknya, mengkonsumsi ikan cobia hampir 3 kg per hari bukan hal yang lazim terjadi sehingga batasan 3,41 ppm dipandang aman bagi kesehatan.
KESIMPULAN
Jenis Ikan
Batasan (ppm) Suhu Kamar
Suhu Beku
Udang vaname
1,04
2,03
2
Udang windu
1,53
3,08
3
Kerapu cantrang
2,31
2,50
4
Kakap merah
1,39
1,49
5
Kerapu macan
0,23
0,96
6
Kakap puh
2,79
2,34
7
Bandeng
0,55
2,53
8
Cobia
1,41
3,41
9
Kurisi
0,99
2,50
10
Ikan coklatan
0,70
2,50
Sumber: Hasil penelian BBP4B (belum dipublikasi)
1. Pemahaman bahwa zero tolerance formalin adalah zero tolerance residu formaldehid pada ikan harus diubah karena formaldehid pada ikan dapat terbetuk secara alami. 2. Regulasi yang mengatur formalin dak boleh ada pada ikan perlu dilengkapi dengan informasi kandungan formaldehid yang terbentuk secara alami sebagaimana Tabel 3. 3. Data dan informasi terkait kandungan residu formaldehid yang terbentuk secara alami pada ikan perlu untuk dilengkapi karena data yang ada masih sangat terbatas pada beberapa jenis ikan saja. 4. Perlu disusun metode analisis yang baku (SNI) dengan mempermbangkan jenis ikatan formaldehid yang mungkin terjadi pada matrik ikan.
DAFTAR PUSTAKA
Aminah SA, Zailina H, Fatimah AB. 2013. Health Risk Assessment of Adults Consuming Commercial Fish Contaminated with Formaldehyde. Food and Public Health 2013, 3(1): 52-58 Anonim. 1995. Commission Directive 95/2/EC of 20 February 1995 on food additives other than colours and sweeteners. European Commission. Off J L 1995:61:1-40. Anonim. 1999. Integrated risk information system (IRIS) on formaldehyde. US Environmental Protection Agency (EPA), National Center for Environmental Assessment, Ofce of Research and Development. Washington, DC Anonim. 2004. Monographs on the evaluation of carcinogenic risks to humans, vol. 88. International Agency for Research on Cancer (IARC), Lyon, France Anonim. 2008. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBP4BKP). Laporan Teknis Penelitian Keamanan Pangan. Anonim. 2009a. Commission Directive 2009/10/EC of 13 February 2009 amending Directive 2008/84/EC laying down specic purity criteria on food additives other than colours and sweeteners. European Commission. Off J L 2009;44:62-78. Anonim. 2014. BPOM Masih Temukan Pangan Mengandung Borax dan Formalin. http://analisadaily.com/news/read/bpommasih-temukan-pangan-mengandung-borax-danformalin/13331/2014/03/13; [accessed 25.03.14]. Bianchi F, Careri M, Musci M. & Mangia A. 2007. Fish and food safety: Determination of formaldehyde in 12 sh species by SPME extraction and GC-MS analysis. Food Chemistry 100: 1049-1053. Chung SWC & Chan BTP. 2009. Trimethylamine oxide, dimethylamine, trimethylamine and formaldehyde levels in main traded sh species in Hong Kong. Food Addit Contam; 2:44-51. Heruwati ES. 2014. Penyalahgunaan Formalin Pada Produk Perikanan. http://pusluh.kkp.go.id/ mfce/download/al44.pdf; [accessed 17.03.14]. Heruwati ES; Ariyani F; Indriati N; Yennie Y; Riyanto R; Kusmawati A. 2006. Riset penanggulangan kerusakan mutu dan penggunaan bahan-bahan berbahaya pada produk perikanan. Laporan Teknis. Pusat Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Jakarta Heruwati ES; Indriati N; Ariyani F; Yennie Y; Murtini JT; Dwiyitno; Riyanto R; Priyanto N; Rachmawati N. 2005. Riset penanggulangan kerusakan mutu dan penggunaan bahan-bahan berbahaya pada produk perikanan. Laporan Teknis. Pusat Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Johannsen FR, Levinskas GJ & Tegeris AS. 1986. Effects of formaldehyde in the rat and dog following oral exposure. Toxicology Letters, 30:1–6. Kim HA, Jang JW & Kim DH. 2011. Analysis of formaldehyde in sheries products. Korean J Food Sci Tech; 43:17-22.
Murtini JT; Puspitasari YP; Sumarny R. 2009. Subcronic toxicity effect of formalin residue in sh on the mouse liver. Journal of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology. Special Edition. Research Center for Marine Product Processing and Biotechnology. Jakarta. (81-88). Nielsen MK & Jørgensen BM. 2004. Quantitative relationship between trimethylamine oxide aldolase activity and formaldehyde accumulation in white muscle from gadiformsh during frozen storage. J Agric Food Chem; 52: 3814-22. Noordiana N, Fatimah AB & Farhana YCB. 2011. Formaldehyde content and quality characteristics of selected sh and seafood from wet markets. Int Food Research J. 18: 125136. Rachmawati N; Riyanto R; Ariyani F. 2007. Pembentukan Formaldehid oada Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscoguttatus) Selama Penyimpanan Suhu Dingin. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan vol 2(2):137145. Restani P, Restelli AR & Galli CL. 1992. Formaldehyde and hexamethylenetetramine as food additives: chemical interactions and toxicology. Food Addit Contam; 9:597605. Riyanto R; Kusmarwati A; Dwiyitno. 2006. Pembentukan Formladehid pada Ikan Kerapu (Epinephelus fuscoguttatus) Selama Penyimpanan Pada Suhu Kamar. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan vol 1(2):111116. Soffritti M et al. 1989. Formaldehyde: an experimental multipotential carcinogen. Toxicology and Industrial Health, 5(5):699–730. Tobe M, Naito K & Kurokawa Y. 1989. Chronic toxicity study of formaldehyde administered orally to rats. Toxicology, 56:79–86. WHO. 1989. Environmental health criteria 89. Formaldehyde. Geneva, Switzerland: World Health Organization. A v a i l a b l e a t : http://www.inchem.org/documents/ehc/ehc/ehc89. htm; [accessed 27.10.12]. WHO. 2002. Formaldehyde. Concise International Chemical Assessment Document 40. World Health Organization, Geneva. Yasuhara A & Shibamoto T. 1995. Quantitative Analysis of volatile aldehydes formed from various kinds of sh esh during heat treatment. J. of Agric. Food Chem. Vol 43. No. 1: 94-97. Yennie Y; Murtini JT; Ariyani F. 2012. Kajian cemaran residu formalin pada produk perikanan. Prosiding Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Perikanan dan Kelautan, 14 Juli 2012.
TIM PENYUSUN Disusun oleh : Rudi Riyanto, Tu Harta Siregar, Singgih Wibowo, Agus Heri Purnomo Evaluator/Editor: Singgih Wibowo, Agus Heri Purnomo Desain grafis: Puguh Aji M. P.